Jumat, 22 Januari 2010

Sistem Bahasa

Bahasa dan Tuturan

Menurut Ferdinand de Saussure, tuturan (parole) merupakan realisasi (perwujudan) bahasa (langue). Bahasa berupa sistem yang sifatnya abstrak, sedangkan tuturan (parole) merupakan realisasi sistem yang bersifat konkret.

Bahasa Indonesia sebenarnya merupakan abstraksi dari sejumlah tuturan bahasa Indonesia yang beragam, yang meliputi tuturan orang Jawa, tuturan orang Minang, tuturan orang Makasar, dan sebagainya tetapi masih dalam bingkai sistem bahasa yang sama.

Rabu, 20 Januari 2010

Media VCD dalam Pembelajaran

Media VCD pembelajaran adalah media pembelajaran yang penyampaiannya memadukan unsur audio, visual dalam waktu yang bersamaan sehingga dapat menarik minat pengguna. Matematika merupakan mata pelajaran yang bersifat abstrak, sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat mengupayakan metode yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa. Untuk itu diperlukan model dan media pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator pembelajaran. Salah satu media yang sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini adalah media VCD pembelajaran.
Tujuan pengembangan VCD pembelajaran ini adalah untuk membuat media VCD pembelajaran metode permainan “Baris Bilangan” pada mata pelajaran Matematika pokok bahasan Operasi Bilangan Bulat untuk Sekolah Dasar kelas IV semester II yang efektif dan dapat membantu proses pembelajaran.
Subyek ujicoba dalam pengembangan media CD pembelajaran ini adalah siswa kelas IV SD Laboratorium UM. Jenis data pengembangan ini adalah kualitatif deskriptif. Sedangkan pengumpulan data dilakukan melalui observasi, serta menggunakan instrumen berbentuk angket yang diberikan kepada ahli media, ahli materi, dan siswa. Untuk hasil belajar siswa digunakan evaluasi dalam bentuk pre test dan post test. Analisis data yang digunakan untuk mengolah data hasil validasi ahli media, ahli materi, dan audiens adalah prosentase, sedangkan untuk mengolah hasil belajar siswa digunakan diagram perbandingan.
Hasil pengembangan media VCD pembelajaran ini berdasarkan analisis data dari 2 ahli media, 1 ahli materi, dan siswa, kemudian dianalisia berdasarkan atas tabel spesifikasi Sudjana, memenuhi kriteria valid, atau dapat dikatakan ahli media setuju bahwa VCD pembelajaran ini sudah layak untuk diterapkan, dengan hasil yakni ahli media 95 %, ahli materi 92,5 %, audiens 87,89 %. Sedangkan untuk tes hasil belajar menunjukkan media VCD pembelajaran ini memberikan efek positif terhadap hasil belajar siswa, itu dapat membuktikan bahwa meskipun materi sudah pernah diajarkan ternyata media ini efektif.
Saran yang diajukan, hendaknya hasil produk media VCD pembelajaran ini dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan ditindak lanjuti sehingga dapat memberikan kontribusi yang berarti terhadap pembelajaran di Sekolah Dasar (SD), khususya untuk mata pelajaran matematika.

Media Pembelajaran

Peranan Media Pembelajaran dan Pemilihannya dalam Pembelajaran
http://massofa.wordpress.com 1/3/2010
Posted on November 5, 2008 by Pakde sofa
Peranan Media Pembelajaran dan Pemilihannya dalam Pembelajaran
Mengapa guru perlu mengetahui dan menggunakan media dalam pembelajaran? Curzon (1985) menyatakan sebagai berikut:
The object of using audio visual material in the classroom in the communication of information incidental to the total teaching process. Selected and used skillfully the aid in the right time, the right place, and the right manner – audio visual aids (AVA) can multiply and widen the channels of communication between teacher and class.
Pernyataan Curzon cukup jelas kiranya dapat mencirikan pentingnya penggunaan media dalam bentuk AVA untuk pengajaran secara umum, bahwa penggunaan AVA dapat memperluas saluran komunikasi antara guru dan siswa. Maksudnya apabila Anda mengajar dengan tidak menggunakan AVA seperti ketika menjelaskan materi pelajaran atau ketika memberi latihan, berarti Anda hanya menggunakan mulut untuk berkomunikasi atau disebut juga komunikasi verbal. Apabila Anda menggunakan media seperti tape, gambar, dll. dalam mengajar, maka Anda menggunakan lebih dari satu saluran komunikasi. Anda tidak hanya memberikan stimulus secara verbal saja, tetapi Anda juga menggunakan stimulus melalui saluran aural dan visual. Semakin banyak kita menggunakan saluran komunikasi ketika mengajar, semakin banyak informasi yang dapat diserap siswa, serta tentunya semakin efektif pengajaran kita.
Selanjutnya, Curzon menyampaikan maksud utama dari penggunaan media sebagai berikut :
A class acquires knowledge and skills as the results of assimilation of responses elicited by those stimuli which create sensory impressions. The concept of teaching which is based on the teacher relying solely on his voice and personality steems from the belief that communication is best achieved through the medium of sound. The use of AVA (media) in a lesson is based on the consideration of communication as related to all the senses of the talk of the teacher in providing the appropriate stimuli for desired responses can be facilitated by him to engage the students’ senses of hearing, seeing, touching, etc.
Dari penuturan Curzon, kita dapat menyimpulkan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa merupakan asimilasi atau gabungan dari respon-respon yang dirangsang oleh stimulus-stimulus yang menciptakan suatu kesan sensoris pada diri siswa. Sebagai contoh, ketika Anda mengajar reading, Anda menemukan satu hal yang sangat sulit dijelaskan secara verbal dari teks kepada siswa. Kemudian, Anda menggunakan alat bantu visual berupa gambar. Dalam hal ini, selain Anda menggunakan saluran komunikasi verbal, Anda juga menggunakan saluran komunikasi lain yaitu visual. Siswa akan lebih dapat memahami pelajaran dengan bantuan visual berupa gambar selain penjelasan guru.
Pentingnya media juga dapat dilihat dari aspek kehidupan siswa. Suatu kenyataan bahwa siswa mendapatkan pengalaman yang lebih luas dan bervariasi dibanding orangtua mereka ketika masih muda. Sehingga cukup beralasan kiranya apabila sekolah memberikan siswa pengalaman sebanyak mungkin dan variatif. Untuk mencapai hal ini, sekolah harus menggunakan sebanyak mungkin media yang dapat menyajikan berbagai pengalaman kepada siswa. Moller (1974) dalam hal ini menyatakan:
Life divides two kinds of reality: that imposed by the school; and the real, living world outside. The new media can help us a lot in our task of: unifying the two realities; indeed they are indipensable if we want to succeed in giving children a stimulating environment in which they can learn.
Pernyataan di atas menjelaskan bahwa media instruksional sangat bermanfaat untuk membangkitkan motivasi siswa dalam belajar karena media menyajikan banyak pengalaman yang menarik, bahkan pengalaman akan dunia di luar sekolah. Walaupun demikian, hasil yang didapat sangat dipengaruhi oleh penggunaan media dengan benar, tepat, dan terseleksi.
Banyak guru tidak memanfaatkan media audio-visual karena dianggap mahal atau tidak tahu cara pemanfaatannya dalam pembelajaran. Seperti kata pepatah “ala bisa karena biasa” memang terjadi dalam pemanfaatan media. Banyak guru tidak bisa karena tidak diajari atau tidak mau belajar sendiri untuk menggunakannya, serta tidak mau mencoba. Suatu sikap yang harus diterapkan di kalangan guru adalah mencoba belajar menggunakannya. Guru akan langsung merasakan manfaatnya setelah mencoba.
Media dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran baik secara klasikal maupun individual. Dalam pembelajaran klasikal, media menjadi bagian integral dari proses pembelajaran itu sendiri. Melalui penggunaan media, siswa dapat terlibat langsung dengan materi yang sedang dipelajari. Misalnya, penggunaan media realia atau benda nyata akan memberikan pengalaman belajar (learning experiences) yang sesungguhnya kepada siswa. Siswa dapat menyentuh dan mengobservasi benda tersebut dan memperoleh informasi yang diperlukan. Dalam mata pelajaran biologi, contoh benda nyata adalah flora dan fauna yang dapat diobservasi secara langsung oleh siswa.
Karakteristik Media Pembelajaran
Selain tahu pentingnya penggunaan media pembelajaran, Anda juga harus mengetahui karakteristik setiap media, potensi apa yang dimilikinya, apa kelebihan dan apa kekurangannya. Hal ini penting untuk mendapatkan hasil yang optimal dari penggunaan media tertentu dalam pembelajaran. Setelah mengetahui karakteristik berbagai media, kita dapat menyeleksi media mana yang cocok untuk digunakan pada proses belajar mengajar tertentu. Dalam hal pentingnya mengetahui karakteristik (properti) media, Kemp (1985) menyatakan:
This properties of media help to indicate why they are used and what they can accomplish that teachers alone can not accomplish (or can accomplish less efficiently). The properties affect the ways in which each medium is used.
Terdapat tiga karakteristik media secara umum menurut Kemp (1985) yaitu: fixative, manipulative, dan distributive. Fixative property mengacu pada kemampuan media untuk merekam peristiwa, menyimpan, dan mereproduksi informasi bilamana diperlukan. Contoh media ini adalah: pita kaset audio dan video, sekarang ditambah dengan cd, vcd, dan dvd. Alat rekam dan putarnya adalah tape recorder, kamera, video player, cd/vcd/dvd player, televisi dan komputer.
Manipulative property adalah kemampuan media untuk mentransformasi obyek atau peristiwa dengan berbagai cara. Kemampuan ini dimiliki media seperti: kamera yang dapat memperbesar/memperkecil obyek; mempercepat proses, contohnya proses membukanya kelopak bunga. Dalam PBM tentang geografi, guru dapat memanfaatkan misalnya video sebuah gunung berapi yang tidak mungkin dilihat dari jarak dekat. Kemampuan manipulatif sekarang sudah sangat maju dengan bantuan komputer. Kita tidak perlu kemana-mana mencari bahan, segala bahan yang diperlukan dapat ditemukan di komputer serta dimanipulasi di komputer pula.
Distributive property adalah kemampuan media untuk menyebarkan informasi melalui udara, sehingga peristiwa yang terjadi di tempat yang berjauhan dapat ditayangkan secara simultan. Contoh untuk ini adalah siaran tutorial udara Universitas Terbuka yang dipersiapkan sebelumnya di Studio UT kemudian disiarkan ke seluruh Indonesia melalui RRI.
E. Pemilihan Media Untuk Pembelajaran
Setelah Anda mengetahui pentingnya media untuk pembelajaran, tugas Anda selanjutnya adalah memilih media yang paling baik dan paling cocok untuk suatu kegiatan pembelajaran. Sebelum Anda menentukan media apa yang akan Anda pilih atau terapkan dalam pembelajaran, ada baiknya Anda perhatikan saran-saran yang disampaikan oleh Curzon (1985). Menurut Curzon ada beberapa pertanyaan yang seharusnya dapat dipertimbangkan sebelum Anda menentukan suatu media, yaitu sebagai berikut:
Apakah tujuan instruksional yang ingin saya capai benar-benar membutuhkan pemanfaatan alat bantu audio-visual ?
Karakteristik media yang bagaimana yang akan membantu saya dalam mencapai tujuan instruksional?
Respon apa yang ingin saya peroleh dari penggunaan media, misal; ingatan, pemahaman, atau konsolidasi?
Bagaimana respon siswa/kelas terhadap penggunaan media?
Bagaimana saya mengevaluasi keefektifan media yang dipergunakan?
Sekarang mari kita bahas satu per satu pertanyaan-pertanyaan di atas agar Anda paham benar apa yang harus Anda lakukan dalam memilih suatu media. Suatu keharusan bahwa ketika Anda mengajar, Anda telah memiliki tujuan instruksional yang harus dicapai siswa Anda. Biasanya, tujuan instruksional menyatakan suatu perubahan perilaku. Oleh karenanya dalam pemilihan media, Anda harus memperhatikan kesesuaian media dengan tujuan yang ingin dicapai. Sebagai contoh dalam pelajaran listening comprehension, tujuan instrusionalnya adalah siswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang isi wacana bahasa Inggris yang dibacakan oleh seorang native speaker. Media yang Anda pilih haruslah media yang dapat memfasilitasi siswa untuk melakukan latihan mendengarkan suatu teks yang dibacakan oleh native speaker, yaitu sebuah tape recorder dan kaset yang berisi rekaman suara seorang native speaker yang sedang membaca suatu teks. Tanpa menggunakan media ini, tujuan instruksional akan sulit dicapai.
Pertanyaan kedua membuat Anda harus memikirkan karakteristik suatu media yang akan membantu Anda dalam mencapai tujuan instruksional. Misalnya kita ambil contoh di atas, karena Anda memerlukan rekaman suara seorang native speaker, maka media yang akan dipergunakan haruslah memiliki karakteristik “fixative” property yaitu kemampuan media untuk merekam peristiwa, menyimpan, dan mereproduksi informasi bilamana diperlukan. Media yang memiliki karakteristik seperti ini adalah tape recorder atau cd player.
Pertanyaan ketiga mengharuskan Anda untuk mempertimbangkan respon yang dirangsang stimulus atau dibangkitkan oleh suatu media yang Anda pilih. Dalam pelajaran listening comprehension di atas, respon yang diinginkan adalah pemahaman isi suatu teks yang dibacakan oleh seorang native speaker. Pemahaman dicirikan dengan kemampuan siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang isi teks/wacana setelah menyimak dengan seksama kaset/cd berisi bacaan yang diputarmainkan oleh tape-recorder atau cd-player.
Pertanyaan keempat membuat Anda harus mempertimbangkan respon siswa terhadap penggunaan suatu media. Apakah dengan penggunaan media tersebut siswa menyambut dengan antusias ataukah malah menjadikan siswa lebih banyak mengalami kesulitan. Apakah siswa tertarik dengan pelajarannya? Apakah mereka akan dapat mencapai tujuan instruksional dengan lebih efektif dengan media tersebut? Semuanya ini bergantung pada media yang Anda pilih, karenanya, pilihlah media yang sesuai dengan usia dan tingkat kemampuan/level siswa, dan pastikan bahwa media tersebut dalam kondisi yang baik. Sebagai contoh, jika materi pelajaran terlalu sukar untuk siswa, jika peralatan (dalam contoh di atas adalah tape recorder) rusak atau tidak menghasilkan suara yang baik, maka media tersebut jangan dipakai.
Pertanyaan kelima adalah hal terakhir yang perlu Anda pertimbangkan yaitu bagaimana mengevaluasi keefektifan media yang kita pergunakan. Hal ini mudah kita lakukan dengan mengecek pemahaman siswa terhadap materi setelah Anda mengajar. Selain itu, Anda juga dapat melakukan evaluasi selagi proses belajar mengajar berjalan, dengan mengamati pencapaian dan prilaku siswa, apakah mereka tertarik atau menunjukan antusiasme ketika merespon media yang dipergunakan.
Kelima pertanyan tersebut sangat penting untuk dipertimbangkan sebelum menentukan media yang akan dipergunakan.
Sementara itu Kemp (1985) menunjukan beberapa faktor yang perlu dipertimbang dalam memilih suatu media untuk pembelajaran sebagai berikut:
Appropriateness/Kesesuaian. Media yang dipergunakan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Misalnya, jika Anda ingin siswa Anda dapat membaca iklan tentang lowongan kerja, media yang sesuai adalah koran.
Level of Sophistification. Ini mengacu pada kesesuaian media dengan tingkat kemampuan/level siswa. Sebagai contoh: ketika membeli kaset di toko, Anda mungkin mendapat hasil rekaman yang baik dengan suara yang jelas; tetapi ternyata kaset tersebut isinya terlalu sulit dipahami oleh siswa Anda. Jadi pemilihan kaset tersebut tidak memenuhi persaratan level yang siswa dan Anda perlukan. Untuk menghindari kejadian seperti ini Anda harus mengevaluasi tingkat sophistification materi kaset tersebut, yaitu kosakatanya, kecepatan penyajiannya (cepat/lambat), tingkat kompleksitas struktur kalimatnya, dan sebagainya sehingga isi materi sesuai dengan tingkat kemampuan/level siswa.
Cost/Biaya. Anda harus mempertimbangkan apakah media yang ingin Anda pergunakan membutuhkan biaya dapat dijangkau oleh Anda sendiri atau sekolah. Meskipun peralatan tersebut kemudian dibeli oleh sekolah, apakah biaya tersebut sebanding dengan keuntungan yang dapat diperoleh dari pembelajaran dengan media tersebut. Tetapi, Anda tentunya tidak akan menyerah dengan situasi tersebut.
Availibility/Ketersediaan. Faktor keempat ini adalah tentang apakah media tersebut tersedia. Bila tiak, tentunya Anda akan mencari alternatif-alternatif lain.
Technical Quality/Kualitas Teknis Peralatan. Faktor kualitas teknis mengacu pada suatu kenyataan bahwa ketika Anda memilih suatu media, media yang dipilih tersebut haruslah berkualitas baik. Suara yang tidak jelas dari rekaman yang tidak berkualitas hanya akan menghancurkan efektifitas media yang digunakan yang sebelumnya diharapkan dapat menyajikan banyak stimuli.
Dari penuturan kedua ahli media pembelajaran tersebut di atas, kiranya kita mendapat gambaran yang lebih luas tentang faktor apa saja yang harus kita pertimbangkan ketika kita akan memilih suatu media yang akan kita pakai untuk membantu proses pembelajaran siswa dalam upaya mencapai tujuan instruksional secara optimal

GURU DAN PEMBELAJARAN

Hakikat Pembelajaran
Istilah “pembelajaran” terkandung makna: perbuatan membelajarkan, artinya menurut Munandir (2001:255) adalah mengacu ke segala daya upaya bagaimana membuat seseorang belajar, bagaimana menghasilkan terjadinya peristiwa belajar di dalam diri orang tersebut. Lebih lanjut dijelaskan, istilah pembelajaran diperkenalkan sebagai ganti istilah “pengajaran”, meskipun kedua istilah itu sering digunakan bergantian dengan arti yang sama dalam wacana pendidikan dan perkurikuluman; dalam bahasa Inggris hanya satu istilah untuk keduanya, yaitu “instruction”.

Menurut Degeng (1997:1) bahwa pembelajaran mengandung makna kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode atau strategi yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka pembelajaran pada hakikatnya ialah pelaksanaan dari kurikulum sekolah untuk menyampaikan isi atau materi mata pelajaran tertentu kepada siswa dengan segala daya upaya, sehingga siswa dapat menunjukkan aktivitas belajar.
• Hakikat Guru
Guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik yang harus memiliki kemampuan dalam merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan.
Di era modern sekarang ini guru tidak lagi hanya bertindak sebagai penyaji informasi, tetapi juga harus mampu bertindak sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari dan mengolah sendiri informasi.

Guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan. Untuk itu guru harus memiliki kompetensi profesional, yaitu kompetensi pribadi, kompetensi sosial dan kompetensi dalam mengajar.

Selasa, 19 Januari 2010

Makalah Sosiolinguistik

PERENCANAAN BAHASA
Oleh: Moh Waluyo Setiyaji

I. Pendahuluan
Munculnya konsep perencanaan bahasa dilatarbelakangi oleh keinginan menyelesaikan masalah kebahasaan yang dihadapi oleh suatu masyarakat atau bangsa yang menggunakan lebih dari satu bahasa sebagai alat komunikasinya (masyarakat multilingual). Negara-negara yang multilingual umumnya menghadapi masalah bagaimana dapat memperoleh satu alat yang mampu mengkomunikasikan kelompok yang satu dengan kelompok lainnya agar hubungan mereka menjadi lebih lancar dan tidak timbul salah paham yang disebabkan oleh perbedaan bahasa.
Indonesia merupakan negara yang multilingual, multirasial, dan multikultural sehingga memerlukan adanya kebijaksanaan bahasa atau politik bahasa agar masalah pemilihan atau penentuan bahasa tertentu sebagai alat komunikasi dalam negara tidak menimbulkan gejolak politik yang dapat menggoyahkan kehidupan bangsa dan kestabilan negara.
Ketentuan-ketentuan yang telah digariskan dalam kebijaksanaan bahasa digunakan sebagai dasar untuk menyusun perencanaan bahasa yang pada gilirannya melibatkan guru dan siswa dalam proses pembelajaran bahasa.
Charles A. Ferguson (dalam Muslich 2007) memberikan ilustrasi yang menyangkut karakteristik bahasa, pemakai bahasa, dan “sejarah pemaksaan” pemakaian bahasa oleh penguasa, yang pada garis besarnya sebagai berikut.
a. Bahasa itu dinamis sehingga menyebabkan bahasa itu hidup, berubah, dan berkembang. Bahasa itu aktif dan terus berkembang seiring dengan perkembangan kehidupan masyarakat pemakai bahasa tersebut.
b. Banyak pemakai bahasa yang sedikit banyak telah mempunyai pengetahuan tentang linguistik. Mereka dapat menilai dan menentukan apakah bahasa itu betul atau salah dalam penggunaannya. Mereka dapat memperkirakan apakah bahasa itu baik, tidak baik, enak didengar, atau janggal ketika dipakai. Ada juga sebagian pemakai bahasa yang dapat membedakan apakah bahasa itu baku (standar), tidak baku, dialek, kreol, slang, dan variasi lainnya. Pada prinsipnya pemakai bahasa (penutur, penulis, pendengar, pembaca) dapat menilai apakah bahasa itu benar atau salah berdasarkan ilmu bahasa yang diketahuinya.
c. Penjajah dapat juga menyebabkan penggunaan bahasa pada masyarakat tertentu berubah. Perubahan semacam ini banyak berlaku di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Penjajah memaksakan penggunaan bahasanya terhadap penduduk atau negara yang dijajahnya. Banyak negara di Afrika jajahan Perancis menggunakan bahasa Perancis sebagai bahasa resmi, meskipun negara tersebut telah merdeka.
Berkaitan dengan hal di atas, masalah politik bahasa yang ditindaklanjuti oleh perencanaan bahasa, dan pengaruh bahasa ibu (B1) dalam pengajaran bahasa menjadi penting untuk dibahas lebih lanjut.

II. Politik Bahasa
Menurut Suwito (1985: 96-97), politik bahasa adalah suatu pertimbangan konseptual yang dimaksudkan untuk dapat memberikan perencanaan, pengarahan, dan ketentuan-ketentuan lain yang dapat dipakai sebagai dasar pengolahan dan pemecahan keseluruhan masalah kebahasaan.
Masalah kebahasaan yang dihadapi suatu negara tidak sama dengan yang terdapat dalam negara yang lain. Politik bahasa nasional yang ditentukan bangsa Indonesia diambil berdasarkan suatu kenyataan bahwa jumlah bahasa yang berada di Indonesia cukup banyak yang masing-masing bahasa didukung oleh kebudayaan yang hidup dan terpelihara secara baik oleh pemiliknya.
Sebagai suatu kebijaksanaan, politik bahasa nasional harus dapat memberikan ketetapan dan penjelasan, bahwa meskipun di Indonesia terdapat banyak bahasa, masing-masing bahasa mempunyai fungsinya sendiri, yaitu bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa-bahasa daerah sebagai bahasa intrakelompok, dan beberapa bahasa asing sebagai alat komunikasi antarbangsa. Dengan demikian timbul kesadaran untuk tidak perlu ada konflik bahasa, sebab masing-masing bahasa memang diperlukan dalam berkomunikasi.
Dalam hal ini pemerintah sudah menggariskan politik bahasa nasional yang juga menghargai keragaman bahasa daerah. Artinya, bahasa Inggris silakan menjadi bahasa pergaulan internasional dan bahasa-bahasa daerah di nusantara terus dilestarikan para pemiliknya. Namun, pengembangan bahasa Indonesia harus menjadi agenda bersama bangsa Indonesia. Dengan begitu, bahasa Indonesia kelak bisa menjadi bahasa modern yang menjadi jiwa bangsa yang menggerakkan seluruh kehidupan kebangsaan.
Berkaitan dengan kesadaran tidak perlu ada konflik bahasa, satu abad yang lalu, ketika mengikrarkan Sumpah Pemuda, para pemuda pejuang kita menyadari betul bahwa bahasa harus diletakkan pada bingkai politik. Itulah sebabnya, para pemuda pejuang mengikrarkan "Bertanah air satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu, bangsa Indonesia; menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia". Kita harus memahami tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia sebagai sebuah kesatuan jika kita hendak membesarkan bangsa dan negara Indonesia. Tidaklah mungkin kita disebut sebagai pembela tanah air tercinta jika bahasa nasional dibiarkan dijajah atau dirusak orang lain.
Kebijaksanaan bahasa mempunyai peranan yang penting dalam menentukan status atau kedudukan bahasa dalam suatu negara. Selain memberi keputusan mengenai status, kedudukan, dan fungsi suatu bahasa, kebijaksanaan bahasa harus memberi pengarahan terhadap pengelolaan materi bahasa itu yang disebut korpus bahasa. Korpus bahasa ini menyangkut semua komponen bahasa, yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, kosakata, serta sistem semantik (Chaer 1995: 239 dan 2004: 183).
Dengan demikian kebijaksanaan bahasa memberikan garis-garis besar tentang pengelolaan bahasa secara menyeluruh, teliti, terarah, dan berencana. Selanjutnya permasalahan kebahasaan yang ditetapkan dalam kebijaksanaan bahasa harus segera dirumuskan dalam perencanaan bahasa.

III. Perencanaan Bahasa
Haugen (dalam Sumarsono 2002: 377), mendefinisikan perencanaan bahasa (language planning) sebagai suatu usaha untuk membimbing perkembangan bahasa ke arah yang diinginkan oleh para perencana. Selanjutnya Haugen mengatakan bahwa perencanaan bahasa itu tidak semata-mata meramalkan masa depan berdasarkan dari yang diketahui pada masa lampau, tetapi merupakan usaha yang terarah untuk mempengaruhi masa depan. Ada tiga hal yang dicakup dalam usaha perencanaan bahasa, yaitu pembuatan tata ejaan yang normatif, penyusunan tata bahasa, dan kamus yamg akan dijadikan pedoman bagi para penutur di dalam masyarakat yang multilingual.
Sutan Takdir Alisyahbana lebih suka menggunakan istilah rekayasa bahasa (language engineering) yang dianggapnya lebih tepat daripada istilah language planning yang terlalu sempit maksudnya. Cita-citanya adalah pengembangan bahasa yang teratur di dalam konteks perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang lebih luas berdasarkan perencanaan yang cermat. Menurut Alisyahbana (dalam Sumarsono 2002: 376-377), masalah rekayasa bahasa (language engineering) yang penting adalah (1) pembakuan bahasa, (2) pemodernan bahasa, dan (3) penyediaan alat perlengkapan seperti buku pelajaran dan buku bacaan.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa perencanaan bahasa dan rekayasa bahasa merupakan istilah yang bersinonim, yakni usaha untuk membuat penggunaan bahasa atau bahasa-bahasa dalam suatu negara di masa depan dengan lebih baik dan lebih terarah sesuai dengan yang dikehendaki oleh para perekayasa.
Perencanaan bahasa disusun berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh politik bahasa. Apabila dalam politik bahasa nasionalnya bangsa Indonesia telah menetapkan bahwa masalah kebahasaan di Indonesia berkisar pada masalah bahasa Indonesia, bahasa-bahasa daerah, dan beberapa bahasa asing tertentu, yang hidup berdampingan dan dipakai sebagai alat komunikasi, maka perencanaan bahasanya harus ditujukan kepada ketiga jenis bahasa itu, yaitu perencanaaan bahasa Indonesia, perencanaan bahasa-bahasa daerah, dan perencanaan beberapa bahasa asing tertentu.
Menurut Suwito (1985: 100), ada dua aspek pokok yang harus ada dalam perencanaan bahasa, yaitu: perencanaan yang berhubungan dengan kedudukan bahasa atau status bahasa dan perencanaan yang berhubungan dengan materi bahasa atau korpus atau kode.
Perencanaan kedudukan bahasa harus didasarkan kepada keputusan-keputusan pemerintah dalam rangka kebijaksanaan nasional pada umumnya. Beberapa negara perlu membedakan antara bahasa nasional dan bahasa negara sebab sumbernya berbeda. Kedudukan bahasa Indonesia yang semula bahasa minoritas sebagai bahasa nasional mempunyai dasar yang bersumber sejarah. Sebagai bahasa negara, kedudukan bahasa Indonesia jelas dengan tercantum dalam Undang-undang Dasar 1945 Bab XV pasal 36.Dengan demikian kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara berdasarkan sumber hukum.
Perencanaan korpus didasarkan kepada dua kenyataan, yaitu
1. setiap bahasa selalu berubah sejalan dengan perubahan masyarakat pemakainya, dan
2. dalam proses perubahan itu terjadi penilaian oleh pemakainya tentang adanya bahasa yang ”lebih baik”, ”lebih benar”, dan ”lebih tepat” sebagai alat komunikasi.
Adapun tujuan perencanaan korpus adalah memberi tanggapan terhadap adanya perubahan dan penilaian tersebut agar komunikasi bahasa sesuai dengan kebutuhan masyarakat pemakainya pada suatu waktu tertentu.
Perubahan korpus meliputi perubahan seluruh komponen kebahasaan, seperti tata bunyi, tata bentuk, tata kalimat, tata kata, tata istilah, tata makna, tata lafal, tata tulis, dan sebagainya. Dalam hubungan ini perencanaan korpus di Indonesia memprioritaskan pada masalah tata tulis (ejaan) dan tata istilah, dan perkamusan (tata kata dan tata makna), serta tata bahasa.
Perubahan penilaian tentang ”kebaikan”, dan ”ketepatan” berkaitan dengan perubahan fungsi bahasa dan situasi dalam arti luas. Sedangkan ”kebenaran” bahasa nampak pada kesetiaannya pada kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa itu. Oleh sebab itu perencanaan penilaian harus dilakukan melalui dua jalur yaitu jalur kode (korpus) dan jalur fungsi bahasa.
Selanjutnya Suwito menyatakan bahwa perlu ada dua tahap dalam perencanaan korpus maupun perencanaan penilaian, yaitu:
1. Tahap Kodifikasi
Yaitu usaha pencatatan dan pendokumentasian data bahasa baik mengenai korpus maupun mengenai penilaian. Oleh sebab itu dalam perencanaan bahasa harus terdapat kodifikasi kode (korpus) dan kodifikasi fungsi. Kodifikasi kode berkaitan dengan pencatatan dan pendokumentasian materi bahasa, sedangkan kodifikasi fungsi berkaitan dengan pendokumentasian pemakaian bahasa sesuai dengan konteks sosialnya. Kedua kodifikasi ini dilakukan dalam rangka pembakuan bahasa.
2. Tahap Elaborasi
Elaborasi merupakan usaha untuk mengembangkan hasil pemilihan korpus dan fungsi yang telah dikodifikasikan. Pemilihan korpus akan menghasilkan korpus yang dianggap baku dan dianggap tidak baku, sedangkan pemilihan fungsi akan menghasilkan ketentuan-ketentuan dalam situasi apa kita boleh menggunakan korpus baku maupun yang tak baku. Salah satu jalur elaborasi bahasa yang paling efisian adalah elaborasi melalui jalur pendidikan dean pengajaran bahasa.

IV. Pengaruh Bahasa Ibu (B1) dalam Pengajaran Bahasa
Pendidikan dan pengajaran bahasa tidak akan lepas dari masalah sosial dan budaya. Di samping materi bahasa yang diajarkan, perlu pengetahuan tentang bagaimana cara mengajarkannya, kepada siapa, dan bagaimana mengevaluasinya. Di samping itu, pelaksanaan pengajaran harus memperhitungkan lingkungan masyarakat tempat pengajaran bahasa itu berlangsung, pengaruh yang mungkin timbul timbal balik antara bahasa ibu siswa dan bahasa yang diajarkannya. Hambatan-hambatan yang mungkin timbul akibat adanya pengaruh bahasa ibu siswa dan cara-cara memperkecil hambatan itu.
Berkaitan dengan pengaruh bahasa ibu, paling tidak ada dua kemungkinan yang bisa terjadi.
Pertama, mereka diajarkan bahasa Indonesia yang sebenarnya merupakan bahasa ibu mereka sendiri. Tentu saja bahasa yang diajarkan adalah ragam baku. Jika kebetulan anak tersebut berasal dari lingkungan yang biasa menggunakan ragam baku, mereka tidak mengalami kesulitan. Tetapi jika mereka berasal dari lingkungan yang biasa menggunakan ragam nonbaku, mereka tetap mengalami kesulitan. Kemungkinan besar anak-anak dipengaruhi ragam nonbaku yang biasa dipakai di rumah. Kemungkinan yang lain mereka melakukan penyusutan dan penyederhanaan atas struktur ragam baku.
Kedua, mereka diajari bahasa lain yang berbeda dengan bahasa ibu. Bahasa lain itu berarti sebagai bahasa kedua (B2) atau bahasa asing. Pengajaran B2 ini menyebabkan munculnya dwibahasawan-dwibahasawan muda. Tuturan B2-nya bisa dipengaruhi oleh bahasa ibunya, meskipun tidak selamanya seperti itu. Mereka juga membuat kesalahan-kesalahan atau penyimpangan-penyimpangan yang sistematis dan wujudnya sama dengan yang dibuat oleh anak-anak yang memiliki B2 sebagai B1 mereka.
Ciri- ciri tutur kedua kelompok itu boleh dikatakan sama, setidaknya jika ciri itu adalah kesalahan dan penyimpangan yang mereka buat. Ternyata pengaruh (interfensi) dari B1 terhadap B2 itu tidak banyak. Kesalahan umum pada hakikatnya bersifat perkembangan (development). Artinya kesalahan itu terjadi dalam hubungannya dengan perkembangan belajar, yaitu dalam usahanya untuk menguasai keterampilan berikutnya dan akan hilang jika mereka sudah mengetahui cara memperbaiki kesalahan tersebut (Sumarsono 2008: 149).
Seperti anak-anak yang sedang belajar B1-nya, anak-anak yang sedang belajar B2 juga kreatif menciptakan bentuk-bentuk baru yang menyimpang dari ragam baku. Dari hasil penelitian Sumarsono (2008: 1510) di Bali, ternyata anak-anak tersebut membuat kesalahan sekaligus kreativitas yang serupa. Mereka misalnya menciptakan ungkapan sarapan siang di samping ada sarapan pagi di mana kedua-duanya tidak tepat.

V. Simpulan
Di negara-negara yang multilingual perlu perencanaan bahasa agar komunikasi antarkelompok tidak menimbulkan salah paham.
Perencanaan bahasa disusun berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan dalam kebijaksanaan bahasa atau politik bahasa.
Ada dua aspek yang harus ada dalam perencanaan bahasa, yaitu yang berhubungan dengan kedudukan bahasa atau status bahasa dan yang berhubungan dengan materi bahasa atau korpus atau kode.
Ada dua tahap dalam perencanaan korpus maupun perencanaan penilaian yaitu tahap kodifikasi dan tahap elaborasi.
Pengaruh (interfensi) dari B1 terhadap B2 tidak banyak. Kesalahan umum pada hakikatnya bersifat perkembangan (development), yaitu dalam usahanya untuk menguasai keterampilan berikutnya dan akan hilang jika mereka sudah mengetahui cara memperbaiki kesalahan tersebut


Daftar Pustaka
Chair, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Chair, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Muslich, Mansur. (2007). Dasar-Dasar Perencanaan Bahasa. Dalam situs http://muslich-m.blogspot.com. [diunduh 29/04/09].
Saroso, Oyos. (2008). Politik Bahasa dan Kita. Dalam situs http://cabiklunik.blogspot.com. [diunduh 27/03/09].
Sumarsono dan Paina Partana. 2002. Sosiolinguistik.Yogyakarta: Sabda dan Pustaka Pelajar.
Sumarsono. 2008. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suwito. 1985. Sosiolinguistik Pengantar Awal. Surakarta: Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Senin, 18 Januari 2010

KONTEKS

KONTEKS
(Diterjemahkan dari buku Discourse Analysis
karya H.G. Widdowson, Oxford, University Press, 2007)

Moh.Waluyo setiyaji



Konteks

Kondisi-Kondisi Penggunaan Bahasa
Kita mengetahui bahasa bukan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian hakiki kenyataan sehari-hari . Dalam keadaan normal, kita tidak hanya menyampaikan sesuatu berdasarkan bahasa yang diucapkan: kita juga menggunakan bahasa untuk menyampaikan pemikiran internal dan untuk memberi ungkapan eksternal dalam berkomunikasi. Tentu saja, kita pada umumnya mengalami kesulitan dalam memahami bahasa yang digunakan dalam kondisi-kondisi tertentu. Walaupun Anda mungkin sangat berkompeten dalam bahasa tertentu, jika seseorang di daerah tersebut meminta Anda untuk menunjukkan kemampuan dengan mengatakan sesuatu di dalam bahasa itu, Anda akan bingung untuk mengetahui apa yang harus dikatakan. Kita hanya menghasilkan bahasa ketika kita mempunyai kesempatan untuk menggunakan itu, dan kesempatan itu terjadi di dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Konteks dan Pengetahuan Bersama
Konteks merupakan situasi di mana kita berada, keadaan dan tempat yang nyata, saat ini juga yang menyangkut rumah, sekolah, tempat pekerjaan, dan seterusnya. Ketika orang-orang bertemu satu sama lain; pengertian/perasaan mereka akan secara alami merujuk ke apa yang kini ada dalam situasi sekarang:

The chalk is over there. (Kapur berada di atas)
Pass me the tape measure. (Berikanlah padaku)
There’s a page missing. (Ada bagian yang hilang)
I like the look of that. (Aku suka memandangnya)
Is that the time? (Saat ini?)

Dalam kasus ini, bisa dipertimbangkan dari apa yang dikatakan dengan menghubungkannya dengan konteks fisik ucapan. Over there –di atas meja dekat jendela. The tape measure -sesuatu yang ada di tanganmu. Is that the time? -lima lewat dua seperti yang ditunjukkan oleh jam pada dinding, dan seterusnya.. Bahasa dapat menunjuk sesuatu yang hadir di lingkungan yang dirasa, dan pendengar hanya dapat memahami apa yang diucapkan oleh alat-alat bicara dengan menghubungkannya dengan konteks yang ada. Ketika ucapannya tidak terhubung dengan situasi, mereka tidak mempunyai petunjuk apapun, dan dengan demikian hilanglah pemahaman mereka: over there bisa di manapun, the time bisa kapan saja. Kehadiran situasi fisik yang sama bukanlah suatu jaminan bahwa pendengar akan membuat koneksi yang diperlukan: mereka mungkin masih gagal untuk mengidentifikasi apa sedang ditandai (Over there... di mana Anda mengartikan? I like the look of that... nampak dari apa?). Sehingga konteks dari suatu ucapan tidak bisa dengan mudah menjadi situasi di mana hal itu terjadi corak situasi yang diambil hanyalah yang relevan. Dengan kata lain, konteks bukanlah sesuatu yang eksternal satuan keadaan hanyalah suatu pemilihan secara internal yang diwakili dalam pikiran itu.

Konteks, kemudian, adalah suatu penyajian abstrak suatu kondisi. Ini mungkin dibangun secara langsung dari situasi yang nyata, seperti contoh yang sudah di di atas. Tetapi hal itu tidak perlu. Hal itu dapat seluruhnya tidak terikat pada situasi tersebut. Pertimbangkan lagi ucapan berbisik-bisik dalam suatu kereta penuh sesak. Situasi, ketika dan di mana ucapan benar-benar diproduksi, tidak punya keterkaitan dengan apapun. Konteks menjadi umum diketahui dari dua orang terkait, kehendak di percakapan mereka sebelumnya. Dan hal itu tidak berpengaruh apakah berlangsung di dalam suatu kereta, bus, di jalan, atau dalam suatu rumah makan atau di manapun. Tentu saja, situasi dapat menjadi relevan. Itu jika mereka mengatakan seperti:

Terribly crowded tonight. (Malam ini sangat penuh.)
Excuse me, this is my station. (Maafkan aku, ini tempatku.)

Ucapan tersebut tetap relevan walaupun tidak terkait dengan tempatnya.

Konteks Mengaktifkan Teks
Konteks, kemudian, bukanlah apa yang dirasa dalam situasi tertentu, tetapi apa yang dikandung yang relevan, dan faktor situasional mungkin tidak punya keterkaitan sama sekali. Dalam komunikasi tertulis, tidak diketahui situasi umum yang dapat digunakan untuk memahami teks.
Ada perkecualian: pertukaran penting antar anggota dari suatu pendengar seperti contoh (This is a terrible play. Agreed. Let,s leave at the interval. Yang dapat diterjemahkan: Ini adalah suatu permainan mengerikan. Yang disetujui. Mari kita tinggalkan, tetapi secara khas ketika suatu teks dibaca situasinya sungguh berbeda dengan ketika dibuat. Walaupun di sana dapat tidak menunjuk pada situasi umum, bagaimanapun, harus ada suatu pendekatan bagi suatu konteks yang umum tentang pengetahuan bersama atau jika tidak, komunikasi tidak dapat berlangsung sama sekali. Sebagian dari konteks ini akan diciptakan atas pertolongan teksnya sendiri. Berikut, sebagai contoh, menjadi pembukaan paragraf suatu artikel dalam sebuah majalah:
Dengan 300 juta penutur asli yang menyebar di 20 negara, bahasa Arab menjadi bahasa terbesar keenam dunia. Sekalipun begitu ada yang terabaikan dan mengejutkan dari dunia Arab tentang Britania: bahwa 737 kelulusan siswa Islam atau Timur Tengah dari studi yang dibiayai oleh Dewan Riset Sosial dan Ekonomi tahun lalu, 12 adalah warga negara Britania.
('Learn among the chicken', Rachel Aspden, New Statesman, 27 September 2004)

Pada pembukaan kalimat, penulis menyediakan informasi untuk menetapkan konteks tentang pengetahuan bersama. Pesan, bagaimanapun, bahwa dia mengasumsikan kalimat tersebut akan mengaktifkan pengetahuan yang tidak dibuat explisit dalam teks: bahwa dunia Arab diharapkan untuk dikenali dengan Islam dan timur tengah, sebagai contoh. Kecuali jika pengetahuan seperti itu diaktifkan, teks tidak membuat pengertian. Hal yang sama dapat dibuat tentang paragraf pembukaan berikut:

Dengan meningkatnya krisis Kosovo pada bulan Mei 1999, Tony Blair menuju Bucharest, ibukota Romanian, untuk menggalang dukungan lokal bagi konfrontasi NATO dengan Serbia. Perdana Menteri mengejutkan dengan pernyataannya yang dengan tiba-tiba mengumumkan di pesawat udara bahwa ia akan berjanji memasukkan permasalahan Romania dalam Perserikatan Masyarakat Eropa sebagai kelanjutan dari dukungannya.
('Europe’s very own Puerto Rico', Tom Gallagher, New Statesman, 6 September 2004)

Di sini penulis kelihatannya tak yakin bahwa penempatan Bucharest diketahui umum, dengan demikian menyediakan informasi bahwa berada di Romania. Sementara itu ia yakin pembacanya mengetahui siapa Tony Blair, sehingga akan mampu menyimpulkan/menduga bahwa Perdana Menteri mengacu pada orang yang sama. Pada kasus yang pertama, konteks yang dimaksud dengan jelas tertulis dalam teks, dan pada yang kedua tidak demikian tetapi ada suatu kesepakatan, lebih dari itu diasumsikan menjadi pengetahuan bersama sehingga ditinggalkan tanpa disebutkan: sebagai contoh lain krisis Kosovo, dan konfrontasi NATO dengan Serbia bagaimanapun bertalian satu sama lain.

Hal penting yang menjadi catatan adalah teks itu tidak dengan sendirinya menetapkan konteks tetapi layanan untuk mengaktifkan teks itu ada di dalam pikiran pembaca. Ketika mengaktifkan itu dapat diperluas oleh kesimpulan. Pada teks yang pertama, di sini, mungkin bukan termasuk bagian dari pengetahuan pembaca bahwa Negara Arab disamakan dengan Islam dan timur tengah, tetapi hal itu menjadi diketahui oleh kesimpulan dari hubungan dua bagian bacaan. Dengan cara yang sama, pada teks yang kedua ada ungkapan pada pesawat udara, tentu isyarat yang ini adalah sesuatu yang diasumsikan untuk menjadi pengetahuan bersama, sehingga pembaca mengesahkan asumsi ini dengan menduga hubungan dengan apa yang telah dikatakan dan dengan demikian menyimpulkan bahwa perjalanan Tony Blair ke Bucharest dengan kapal terbang, dan bukan, sebagai contoh, dengan kereta.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konteks membangun psikologis suatu penyajian yang konseptual dari suatu kondisi. Di dalam komunikasi, apa yang terjadi adalah bahwa pihak pertama (seorang penulis atau pembicara, P1) menghasilkan suatu teks yang memaksa pihak kedua (pembaca atau pendengar, P2) mengasumsikan bersama ke dalam suatu konteks. Begitu konteks sudah terkunci, kemudian dapat diperluas, atau dimodifikasi, dengan bantuan teks lainnya: begitu tingkat pemusatan konteks diaktifkan, maka tersedia kondisi-kondisi untuk pemusatan lebih lanjut .

Tidak ada kesamaan konteks: ilustrasi dari suatu medan perang
Mungkin saja, orang pertama salah mengira, karena komunikasi membingungkan atau terputus. Dalam interaksi percakapan, pada umumnya memperbaiki komunikasi antara kedua pihak dapat dengan pemusatan pada konteks. Hal ini dapat dilakukan ketika situasi dan konteks dikenali. (Over there... Di mana? On the shelf... Rak yang mana?... The bottom one... Ah ya, mengerti). Tetapi di sana dapat menyebabkan salah tafsir jika konteks bersama tidak ada. Contoh berkaitan dengan hal tersebut disajikan oleh suatu peristiwa dalam sejarah militer Britania.

Bulan Oktober 1854, angkatan perang Britania dan Rusia berjumpa di pertempuran Balaclava. Sepanjang pertempuran, seorang jenderal dari Britania, Lord Raglan, telah memposisikan dirinya di tempat tinggi agak jauh dari pertempuran, dan sedang mengirimkan pesan melalui pesuruh yang menunggang kuda kepada pasukannya di lembah. Dari tempat yang menguntungkan ini, ia mengamati serombongan tentara Rusia yang mundur dengan artileri yang telah mereka rampas hari itu, dan mengirim suatu pesan agar barisan berkudanya menanganinya. Teksnya sebagai berikut:

Lord Raglan mengharapkan barisan berkuda untuk membantu dengan cepat ke medan, mengikuti musuh dan berusaha untuk mencegah musuh mengangkut meriam. Pasukan kuda artileri boleh menemani. Barisan berkuda Perancis di kirimu. Segera. R. Airey

Asumsi dari konteks bersama sangat jelas dalam teks ini oleh penggunaan kata tertentu: barisan berkuda, medan, musuh, meriam. Yang tidak dipertimbangkan oleh Lord Raglan adalah bahwa keadaannya di atas yang begitu enak berbeda dengan barisan berkuda yang berada di bawah dalam lembah itu. Mereka tidak dapat melihat apa yang Lord Raglan informasikan. Tidak ada kesamaan situasi tempat yang menguntungkan, mereka ada dalam posisi tidak bisa untuk menyimpulkan kerelevanan konteks bahwa Raglan sedang mensyaratkan seperti umum diketahui. Satu-Satunya medan yang mereka dapat lihat adalah satu pada ujung lembah di mana prajurit Rusia dengan aman kukuh di belakang meriam berat mereka. Bagi mereka, medan adalah medan ini, musuh adalah musuh ini, meriam meriam ini. Sehingga mereka menyerang dari arah yang salah, dengan konsekuensi celaka.

Masalah dengan teks Lord Raglan bahwa teks itu gagal sebagai acuan. Tetapi seperti ditunjukkan dalam bab yang terdahulu, apa yang para penulis maksudkan dengan teks mereka tidaklah hanya mengacu pada apa yang mereka inginkan tetapi juga pada kekuatan ilokusi dan efek perlokusi yang hendak mereka capai. Maka ketika Lord Raglan mendikte pesannya, ia tidak hanya mengacu pada medan dan musuh tetapi ia membuat perintah. Susunan kata dari teks yang tidak membuat tegas/eksplisit adalah: Lord Raglan mengharapkan barisan berkuda... Tetapi sudah umum dikenal sesuai dengan konvensi hidup militer, pemimpin barisan berkuda mengetahui dengan baik bahwa hal itu bukan hanya pernyataan suatu harapan tetapi pesannya mempunyai kekuatan sebagai perintah yang harus dipatuhi segera, apalagi dalam konteks medan perang. Menyangkut efek dari pesan, bahwa hasil yang diharapkan Lord Raglan akan melibatkan barisan berkudanya adalah pelengkap tindakan secara relatif. Efek tentang penafsirannya , bagaimanapun, sungguh berbeda dan hasil adalah suatu bencana.

Dalam kasus bencana ini, komunikasi putus sebab kedua orang terpisah, barisan berkuda jatuh dalam lembah adalah wajar, situasinya berbeda, konteks yang disyaratkan oleh orang pertama, berdasar pada tempat yang tinggi. Bagaimanapun, berbagai kesulitan terjadi ketika orang pertama mensyaratkan pengetahuan yang tidak diketahui orang kedua. Begitu pemahaman kita menyangkut sari teks Tony Blair dan Romania tergantung pada pengetahuan kita tentang krisis Kosovo. Artikel tersebut terdapat dalam majalah dan penulisnya mengasumsikan bahwa pembaca mengetahui peristiwa dunia. Poin yang dapat dicatat di sini adalah bahwa secara umum semua teks dirancang bagi penerima dengan cara apapun sehingga jika Anda bukanlah penerima yang boleh dikatakan ditunjuk, Anda mungkin mempunyai permasalahan dalam memahami konteks yang disyaratkan oleh pembuat teks. Ini terlihat ketika kita menghadapi teks yang khusus yang tidak familier, sebagai contoh peternakan, fisika. Tetapi adalah penting untuk dicatat bahwa semua teks, apakah dianggap sebagai spesialis atau bukan, dirancang dengan gagasan yang diharapkan dapat diketahui kelompok penerima tertentu. Jika Anda adalah orang luar, Anda mungkin sungguh-sungguh mempunyai berbagai kesulitan untuk menghubungkan sesuatu yang diperlukan.

Konteks dan berbagi nilai-nilai
Konteks dapat berupa pemikiran dari pengetahuan dunia bahwa suatu teks digunakan untuk mengacu pada hal tertentu, oleh karena itu keberadaannya dikenal oleh kelompok tertentu. Dan ini tidak hanya untuk mengatur kelompok yang berbeda ini memahami tentang berbagai hal fakta (dan orang lain tidak), tetapi juga cara berpikir yang membedakan mereka tentang hal-hal ini. Dalam sari yang disajikan pada bagian awal, sebagai contoh, penulis tidak hanya mengira bahwa pembaca akan memahami tentang hubungan antara Arab dan Dunia Islam, yang mana adalah kenyataannya, tetapi juga bahwa pembaca akan berbagi segi pandangannya tentang kondisi yang ia uraikan dan demikian menerima kekuatan dari apa yang ia katakan. Begitu, ungkapan British ignorance of and indifference to the Arab world remains startling bukanlah suatu statemen fakta sasaran hanyalah pernyataan pendapat, dan bahwa penulis mengasumsikan pembaca akan menerima. Pendekatan tidak dibuat untuk membagi bersama pengetahuan tetapi untuk membagi bersama nilai-nilai. Titik yang sama dapat dibuat tentang corak menyangkut sari yang kedua tentang Tony Blair: drum up (bandingkan dengan mendapatkan atau memperoleh atau mengumpulkan), high-risk confrontation adalah ungkapan untuk menyarankan penolakan, dan lagi pembaca diundang untuk mengadopsi sikap yang sama, untuk berbagi segi pandangan atau posisi yang sama, dan demikian untuk mengesahkan keterangan ini bukan sebagai statemen informasi sasaran, tetapi sebagai komentar kritis. Pertimbangkanlah teks yang lain dari sumber yang sama:

Setelah mencuri kebijakan Tories', New Labour yang tak bisa diperhatikan melanjutkan lagi mencuri isteri Tories' itu. Tetapi bahwa isteri harus Kimberly Fortier, penerbit Spectator, nampak mengejutkan. Bukan bahwa majalah itu semua yang mengikis keluarga? Aduh, tidak: mungkin mendapatkan politik nya dari Telegraf, tetapi sekarang mendapatkan akhlaknya dari Daily Sport ...
( New Statesman, 23 August 2004)

Di sini penulis mengira bahwa pembaca telah memahami tentang apa yang tersebut di sini: tidak hanya tentang peristiwa yang terbaru yang tertentu yang menyertakan wife-stealing dan Kimberly Fortier, tetapi lebih umum lagi tentang latar belakang yang semakin permanen dibanding dengan peristiwa ini berlangsung: politik dari Tories dan New Labour, dan sifat alami ketiga penerbitan yang tersebut. Tetapi ini juga mengira bahwa pembaca akan menerima jalan/cara hubungan peristiwa ini dan latar belakang mereka telah diwakili di sini, mengenali bahwa teks ini dimaksudkan untuk mempunyai kekuatan ejekan dan efek tentang penghinaan dan membuat terhibur.

Kesimpulan
Konteks sebuah teks, apakah tertulis atau percakapan, dirancang untuk mengunci dalam membangun kenyataan ketika dipahami/dikandung oleh kelompok orang tertentu, penyajian dari apa yang mereka ketahui dan bagaimana mereka memikirkan itu. Walaupun, ketika kita sudah melihat, sebagian dari pengetahuan yang produsen teks asumsikan untuk menjadi bersama dari hal-hal tertentu, peristiwa, para orang, baik di dalam situasi ucapan yang segera maupun bukan, yang tertentu ini secara khas dihubungkan dengan struktur pengetahuan menurut bagan yang lebih umum. Hal tersebut diasumsikan di dalam teks yang baru saja kita pertimbangkan bahwa sebutan tertentu dalam wife-stealing dan Kimberly Fortier akan dihubungkan dengan bagan yang umum tentang politik Britania, dan sebutan Tony Blair dan pengumuman yang mengejutkannya di dalam teks mengutip lebih awal akan dihubungkan dengan skemata yang umum menyangkut krisis Kosovo dan Perserikatan Eropa dan afairnya. Jika pembaca tidak bisa mengesahkan asumsi ini, mereka akan putus bicara untuk mengetahui apa yang para penulis ingin sampaikan dengan teks mereka dalam kaitan dengan acuan mereka, kekuatan, dan efek.

Tentu saja, sekalipun penerima teks dapat mengetahui dan sanggup untuk mengesahkan niat dari produsen teks, mereka dapat gagal untuk melibatkan pengetahuan ini untuk orang lain. Komunikasi bukan sekadar membawa sesuatu semacam pengetahuan ke dalam surat menyurat, hanyalah membawa mereka ke dalam suatu derajat tingkat pemusatan, dan ini boleh meminta negosiasi yang sungguh kompleks. Kita akan mengetahuinya dalam Bab 6. Tetapi sementara itu, kita harus memperhatikan bagaimana macam dari pengetahuan secara konvensional tersusun. Kita harus menyelidiki konsep dari bagan.